Kamis, 04 Maret 2010

Habis gelap, terbitlah bintang (Alhamdulillah...)


   Sudah hampir 17 tahun saya tinggal di alamat yang sekarang, baru kali ini saya ngobrol begitu banyak dengan orang yang selama ini tidak saya perdulikan, eh ternyata tetangga saya yang satu ini, sebut saja namanya Pak Wongso, enak juga diajak bercengkrama...
Awalnya kami hanya bicara ngalor-ngidul ngga karuan, ngobrol yang ringan-ringanlah.. tapi lama kelamaan beralih keobrolan yang berbau pribadi.
Dia tinggal tidak jauh dari rumahku, masih satu RW dan satu komplek, hanya berjarak 4 gang. Pak Wongso banyak bercerita tentang masa lalunya yang penuh dengan masa-masa sulit, dimulai sejak awal kedatangannya ke Jakarta saat dia masih kanak-kanak,  kemudian masa remajanya yang sakit-sakitan dengan lingkungan yang kumuh dan keras.  Mau tahu dimana dia tinggal sewaktu remajanya?   Dia tinggal tidak jauh dari Bronx-nya Jakarta, yaitu Bongkaran Tanah Abang!!   Kalian tahu daerah yang aku sebut tadi?   Itu adalah salah satu wilayah di Jakarta yang terkenal cukup 'angker' dilihat dari sisi keamanan dan keselamatan badan.  Disinilah Wongso Kecil ditempa kehidupannnya.   Tapi itu dulu... kira-kira tahun '70-80 an, kalau sekarang sudah tidak lagi. Karena daerah yang disebut Bongkaran, sekarang sudah benar-benar di bongkar untuk fasilitas umum, katanya begitu.
     Setelah lulus sekolah menengah dia langsung bekerja di sebuah instansi pemerintah. Teman-teman sepermainannya sering mengolok-olok dia dengan sebutan 'Oemar Bakri' sebagai pengganti pegawai negeri (pernah dengar ngga lagunya Iwan Fals yang judulnya ya itu tadi, "Oemar Bakri"??). Tiap kali dia lewat di depan gerombolan teman-temannya yang suka nongkrong di ujung gang tempat dia tinggal, selalu terdengar ejekan tersebut. Maklum pada waktu itu gaji pegawai negeri sangatlah kecil di banding dengan penghasilan Calo Tanah atau Pengedar Narkoba. Tapi Wongso Remaja memang orang yang sabar. Dia senantiasa menerima keadaan ini, bahkan dia amatlah bersyukur pada Yang Maha Pengasih, Allah SWT. mengingat masih banyak orang yang belum dapat pekerjaan. Daripada nganggur, pikirnya, masih mending kalau dia kerja walau sebagai 'Oemar Bakrie' dengan gaji yang pas-pasan.
     Karena kesabarannya inilah sekarang dia sudah dapat menikmati hasilnya, memang belum semakmur dan semewah konglomerat 'nakal' maupun pejabat yang suka korup itu, tapi setidaknya Pak Wongso dapat enjoy dengan keadaannya yang sekarang... Anaknya yang pertama cewek, sudah bekerja, yang kedua juga cewek, masih di SMA kelas 1, sedangkan yang Ragil alias Bontot, cowo, baru berusia 1 tahun lebih. "Alhamdulillah Mas... kesulitan-kesulitan hidup yang saya alami sejak kecil, sekarang sudah berubah.., sudah berlalu" katanya. "Ternyata Gusti Allah Maha Baik" pujinya. "Setelah saya mengalami berbagai kesulitan Mas, baik kesulitan ekonomi maupun kesehatan,  sekarang Gusti Allah telah mengganti semua itu dengan kebahagiaan seperti yang sampeyan lihat sekarang.." Kulihat diujung mata Pak Wongso ada sebercak air, rupanya dia terharu dengan keadaannya sekarang.

Masa Kecil dan Remaja
     
Pak Wongso adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara, tapi yang masih hidup tinggal 3 orang, 2 kakak perempuannya dan Pak Wongso sendiri. Ibunya meninggal pada waktu dia masih anak-anak, kira-kira umur 11 tahun. Kemudian Ayahnya menikah lagi dengan wanita dari Malang. Dari perkawinan yang kedua ini tidak dikaruniai anak. Ayahnya adalah pekerja kasar pada sebuah bengkel sepeda motor. Tepatnya buruh kecil.

     Pak Wongso memasuki sekolah dasar memang agak telat. Ayahnya beralasan karena waktu itu masih kecil. Padahal usianya hampir 8 tahun. Memang perawakan Pak Wongso kecil agak kerempeng.
Di sekolah dia termasuk murid yang tidak bodoh, termasuk encerlah otaknya, begitu pengakuannya padaku.   Bahkan pernah ditawari untuk ikut Ujian Akhir, walaupun dia masih duduk di kelas V SD.  Tapi kedua orang tuanya tidakk mengizinkan, khawatir tidak lulus. Kesempatan emas terlewatkan...
     Pernah suatu ketika, orang tuanya dipanggil oleh pihak sekolah, bukan karena Pak Wongso nakal, tapi karena sudah empat bulan Wongso Kecil belum bayar SPP. sehingga belum diperbolehkan untuk ikut Ujian Nasional (kalau sekarang UAN). Wongso Kecil memang bukanlah anak orang yang berada, akhirnya setelah diadakan negosiasi antara orang tua dengan pihak sekolah, diambil keputusan bahwa Wongso Kecil dibebaskan dari uang SPP selama 4 bulan terakhir dan diperbolehkan mengikuti Ujian Akhir Sekolah. Mungkin karena Wongso Kecil punya prestasi lumayan di sekolah tersebut, sehingga pihak sekolah mengizinkan ikut ujian.

     Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di bilangan Kebon Kacang, dia melanjutkan ke Sekolah Teknik (setingkat SLTP) masih di wilayah yang sama, tepatnya di Kebon Sirih, kalau sekarang di sebut Jembatan Serong (tapi bukan Jembatan Selingkuh! Jembatannya memang berbelok). Dia bercita-cita ingin jadi Pilot, atau 'Tukang Insinyur' (kalau boleh pinjam istilahnya Rano Karno dalam film Si Doel Anak Sekolahan-1990). Tapi sayang, pada awal tahun pelajaran di SLTP ini dia terserang penyakit paru-paru (walaupun kata dokter baru flek, belum akut),  sehingga kecil harapannya untuk dapat menyandang gelar Insinyur apalagi Pilot yang memerlukan kesehatan badan yang prima.   Wongso Remaja kesal bukan alang kepalang, dia memaki nasibnya yang seperti ini. Bahkan dia sempat 'menghujat' Gusti Allah, walau cuma dalam hati (astaghfirullah...), kenapa penyakit ini datang dan menggerogoti dia selagi cita-citanya setinggi langit.
     Segala kegiatannya nyaris terhambat karena penyakit ini.  Dia iri dengan semua teman-temannya yang diberi kesehatan prima oleh Yang Maha Pengasih,  mereka dapat mereguk masa remajanya dengan sepuas-puasnya.  Bebas bergadang sampai pagi sambil menikmati musik-musik kesukaannya, menghisap rokok (terkadang ganja dan sejenisnya), atau main sepakbola sambil hujan-hujanan.  Sementara Wongso Remaja hanya terbaring tak berdaya.  Oleh dokter dilarang untuk begadang, apalagi merokok.  ".. Sungguh, sangatlah tidak adil!!", ".. Tuhan pilih kasih..!" Begitu kira-kira gerutu Wongso Remaja dalam hati. "..Ya Allah kenapa tidak Kau ambil saja nyawa ini, agar aku terbebas dari 'ketidakadilan'Mu?".  Lagi-lagi Wongso Remaja 'memaki' Sang Bijaksana Pencipta Alam Semesta. Sementara Pak Wongso sendiri tidak tahu, hakikat dari semua ini. Rupanya Allah hendak menunjukan kasih sayangnya kelak dikemudian hari...
     Penderitaan ini dijalani Wongso Remaja hampir 2 tahun lamanya, selama ini pula dia rajin berobat setiap hari ke dokter, kemudian seminggu sekali, setelah itu sebulan sekali kontrol sampai akhirnya dokter menyatakan bahwa Wongso Remaja sembuh.  Namun karena trauma, takut penyakitnya kambuh lagi, dia tidak berani beraktivitas sebebas dulu lagi. Katanya ingin sehat dan (insya Allah) panjang umur, karena saran dari dokter jika ingin panjang umur dan sehat hindari rokok, minuman keras (narkoba) dan begadang.
   Wongso Remaja termasuk anak yang penurut, dia telan semua saran dan nasihat dokter, sampai-sampai dia juga 'takut' bergaul atau dekat-dekat dengan cewek, minder, katanya.     Sejak saat itulah Wongso Remaja membatasi pergaulannya dengan sesama remaja di lingkungan kampungnya, dia selalu menghindar jika diajak begadang atau kumpul-kumpul dengan mereka. Maklum lingkungan tempat Wongso Remaja tinggal agak 'seram'.  Remaja disana bila malam hari, apalagi kalau malam minggu tiba,  kalau tidak minum-minum, ya 'ngeboat' (pemakai narkoba), sering mereka  kumpul-kumpul sambil ditemani botol-botol minuman keras dan aroma asap rokok yang berbaur menjadi satu.  Wongso Remaja mulai dijauhi oleh teman-teman sebayanya... Sedih juga hatinya, tapi apa boleh buat, demi kesehatan dirinya hal ini ia terima dengan lapang dada.

     Memasuki sekolah menengah, Wongso Remaja tetap dengan cita-citanya, dia pilih masuk sekolah kejuruan,  yaitu STM Negeri 1 Boedi Oetomo, Jakarta. Dia ambil jurusan mesin.
Tahun pertama pelajaran masih berjalan normal, artinya tidak ada gangguan kesehatan maupun pergaulan dengan teman-temannya. Walaupun begitu Wongso Remaja tetap selektif dalam memilih teman dan sahabat di lingkungan sekolahnya.
     Ditahun kedua, Wongso Remaja harus menerima 'Ujian' lagi dari Yang Maha Tahu. Sepulang dari Camping dengan teman-teman sekelasnya, penyakitnya kambuh.  Ada pendarahan di sekitar paru-parunya, sehingga dia harus beristirahat cukup lama dan berobat rutin. Hampir 7 bulan Wongso Remaja menjalani pengobatan. Praktis sekolahnya terbengkalai. Dia tidak dapat mengikuti seluruh pelajaran, dan pada akhir tahun, dengan menyesal guru wali kelasnya menyatakan bahwa Wongso Remaja harus tinggal kelas.  Sedih? Kecewa? Pasti!  Dia sedih dan kecewa sekali, tapi dia berusaha untuk tegar dan menerima kenyataan harus mengulang dikelas yang sama, kelas 2 lagi.
     Di kelas yang baru, Wongso Remaja ingin membuktikan kepada teman-temannya yang dulu adik kelasnya, kalau dirinya tidak naik kelas bukan karena bego, tapi karena sakit yang tidak diharapkan.  ".. Alhamdulillah Mas, " pujinya, ".. Pada waktu kenaikan kelas, saya mendapat ranking II dengan nilai baik.  Diakhir tahun saya lulus dengan nilai memuaskan, bahkan ditawari bea siswa ke IKIP Padang,  tapi sayang orang tua tidak mengizinkan..". "Kenapa pak, 'kan enak dapat bea siswa?" kataku. "Benar Mas, kata orang tua saya, mereka takut kalau saya kenapa-napa, takut kalau saya sakit lagi, apalagi Ayah.. dia yang paling cerewet" "O.. begitu".   Satu kesempatan emas hilang lagi ....

     Pada waktu masih sekolah, saya ingin buru-buru selesai, tapi setelah lulus malah bingung.  Mau melanjutkan ke perguruan tinggi biaya tidak ada.., apalagi orang tua tidak mampu, ada kesempatan mendapat bea siswa, orang tua beda pendapat.   "Akhirnya saya putuskan untuk kerja dulu Mas.., nanti kalau sudah ada biaya, baru saya akan kuliah".  Ternyata Pak Wongso termasuk pemuda yang beruntung, bagaimana tidak, setelah kesana-kemari cari kerja, dia diterima di sebuah instansi pemerintah.  Sementara teman-teman seangkatannya banyak yang belum bekerja.  Dia menjadi pegawai negeri dengan mudahnya. Mengikuti tes masuk, terus lulus!  Tanpa koneksi atau dikatrol oleh "orang dalam", apalagi nyogok.  Pakai apa nyogoknya?  Uang ngga punya, kalaupun ada, mungkin sudah dipakai untuk kuliah lebih dulu.

Selamat Tinggal Bujangan ...
     Setelah menjadi pegawai negeri selama hampir 2 tahun, dia bertemu dengan seorang gadis anak seorang pensiunan pegawai, yang sekarang menjadi "mamanya anak-anak".
Waktu berjalan dengan cepat.  Setelah Pak Wongso menikah dengan Sunarsih,  setahun kemudian Gusti Allah memberikan momongan dengan lahirnya seorang bayi mungil nan cantik yang di beri nama Eva Indriani.  Karena berbagai pertimbangan dan  demi keselamatan sang bayi,  mengingat masih memerlukan perawatan yang serius, akhirnya anak dan isterinya ditinggal bersama mertuanya di kampung. Kelak jika nanti sudah agak besar, bayi mungil itu akan diboyong ke Jakarta, begitu rencana Pak Wongso. Sebenarnya Pak Wongso tidak mau berpisah dengan keluarganya, namun Pak Wongso masih bingung, mau meneduh dan tidur dimana, dia sendiri masih numpang dengan orang tuanya yang tinggal di rumah petak dan sempit.
    Sebulan dua bulan berjalan, Pak Wongso masih kuat menahan kerinduan pada anak dan isterinya, tapi  begitu memasuki bulan ke lima, dia tidak dapat menahan lagi kerinduannya. "Saya masih ingat Mas, waktu itu bulan Mei..., kalau tidak salah tanggal 5 an, saya pulang kampung tujuannya cuma satu, menjemput anak dan isteri saya Mas", ungkap Pak Wongso padaku. "Saya sudah niat, begitu sampai di Jakarta, saya mau cari kontrakan sendiri.  Saya pamit sama Ibu dan Ayah, namun keduanya tidak mengizinkan untuk ngontrak rumah Mas..", "setelah saya utarakan alasannya dengan panjang lebar dan penuh debat, akhirnya keduanya menyetujui, mungkin dengan berat hati.  Karena waktu itu saya ngeyel, alasannya  ingin bebas, dan belajar dewasa, tidak mau ngelek (hidup dalam ketiak orang tua, atau jadi benalu-istilah orang jawa).  Memang hidup dengan orang tua itu enak.  Mau minta apapun pasti keduanya dengan rela memberikan apapun yang mereka punya,  semata-mata demi anaknya.
     Rabu tanggal 16 Juli 1989 Pak Wongso pindah ke rumah kontrakannya di daerah selatan Jakarta.  Benar juga, setelah beberapa bulan tinggal di rumah kontrakan, Pak Wongso mulai merasakan sulitnya hidup.  Ada ungkapan yang sering kita dengar bahwa sekejam-kejamnya ibu tiri masih belum seberapa, dibandingkan dengan kejamnya ibu kota.   "Rasanya ungkapan ini tidak salah Mas, jika digandengkan dengan kehidupan saya selama tinggal di rumah kontrakan. Padahal waktu itu saya baru punya satu anak, bagaimana kalau anak saya lima Mas" kata Pak Wongso setengah bertanya.  Aku diam saja mendengar pertanyaannya yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
     Pak Wongso sering pulang kantor, dari Blok-M ke Petukangan Selatan (rumah kontrakannya) tidak naik angkutan umum, tapi jalan kaki (Pak Wongso bilang padaku, karena sudah kehabisan ongkos... kacian deh lu..), dan untuk menghindari tetangga tahu, dia lewat kampung-kampung yang kemungkinan jarang dilalui tetangganya.  Hal ini terjadi berkali-kali namun tanpa sepengetahuan sang isteri di rumah.  Dalam hati Pak Wongso ingin sekali punya motor, walau pun tidak baru asal masih bisa dipakai ke kantor.  Tapi, jangankan motor, sepeda othel saja tidak mampu beli.  "Rasanya cuma saya yang hidupnya paling susah  di dunia ini Mas" keluh Pak Wongso, "Jangan-jangan seumur hidup, saya tidak akan punya rumah, ngontraaak terus.." Kadang ingin juga seperti keluarga yang lain, punya rumah sendiri atau ambil rumah cicilan BTN. Namun jika mengukur gaji yang dia terima tiap bulannya, Pak Wongso jadi frustasi sendiri.  Jangankan untuk biaya hidup sebulan, bisa sampai tanggal 10 an saja sudah untung (kata orang Jawa)!!.  Begitu lewat tanggal 10, mulailah Pak Wongso sibuk bergerilya kesana kemari, cari utangan.  Ujung-ujungnya orang tua juga yang jadi sasaran pinjaman.  "Tapi anehnya Mas, saya koq bisa tinggal dikontrakan sampai 4 tahun lebih dengan segala kekurangannya... Memang aneh ya jadi pegawai negeri,  gajinya kecil, tapi bisa hidup ya? (walaupun ngos-ngosan)" Tanya Pak Wongso.
     Setelah ada pergantian Pimpinan baru di kantornya, berhembuslah angin segar untuk Pak Wongso.  Tidak disangka-sangka ada keinginan dari pimpinan baru untuk memberi kesejahteraan bagi pegawainya seperti Pak Wongso dan pegawai lainnya.   Setelah disediakannya mobil jemputan, kali ini 'Big Boss' akan membuatkan rumah bagi pegawai Golongan I dan II di instansi tersebut.  Bukan main gembiranya hati Pak Wongso mendengar rencana itu.  Dia berharap dan berdoa, semoga bisa memiliki rumah yang memang sedang diimpi-impikannya.
     Singkat cerita setelah diadakan seleksi dan pengundian, Pak Wongso beruntung, dia termasuk salah seorang yang terpilih diantara 300 an pegawai yang berhak mendapatkan rumah tersebut.  "Alhamdulillah, alhamdulillah..." berkali-kali Pak Wongso memuji Tuhannya.  Begitu jam kerja berakhir, langsung dia pulang menemui keluarganya, anak dan isterinya, dengan hati berbunga.
      Mendengar berita akan memiliki rumah sendiri, bukan main bahagianya isteri Pak Wongso,  namun tidak berapa lama tiba-tiba wajah isterinya berubah menjadi muram.  "Ada apa ini?", selidik Pak Wongso dalam hati.  "Bukannya saya tidak gembira mendengar berita ini Pa..," tiba-tiba isterinya angkat bicara.  "Dari mana untuk bayar Uang Mukanya Pa??" Bagaikan disambar petir, Pak Wongso tercekat kerongkongannya untuk bicara.  Dia tidak dapat menjawab pertanyaan isterinya yang mendadak itu.  "Ya dari mana saya akan membayar Uang Mukanya yang lumayan besar itu Mas..."  Memang persyaratan utama untuk dapat memiliki rumah pegawai tadi, selain masa kerja mencukupi juga harus bisa melunasi UM sebesar Rp 900 ribuan, pada waktu itu (tahun 1991) gaji Pak Wongso cuma 90 ribuan per bulan tidak sampai 100 ribu, maklum dia hanya Golongan I.  Sedangkan tabungan sama sekali tidak punya.
     Seperti makan buah Simalakama, dimakan tidak dimakan ada yang mati.  Jika tidak dimanfaatkan kesempatan ini, selamanya Pak Wongso tidak akan punya rumah, atau kalau ditunda, nanti harganya pasti sudah melambung jauh dibanding harga sekarang.  Sebaliknya jika diambil kesempatan ini?   Ya itu tadi..,  pakai apa Uang Mukanya.  
      Selagi bingung memikirkan darimana untuk mencari uang muka rumah, tak disangka tak diduga, rupanya Allah mengirimkan 'malaikat'Nya untuk menolong hambaNya yang sedang kebingungan.  Datanglah seorang ibu 'baik hati' menawarkan pinjaman uang.  "Masalah pengembaliannya, jangan dipikirkan sekarang Pak..", begitu awalnya dia menawarkan bantuannya.  "Yang penting terima saja dulu Pak, agar Bapak punya rumah..".
     Dengan uang pinjaman sebesar 1 juta itulah akhirnya mimpi Pak Wongso kesampaian juga, dapat memiliki sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang sekarang dia tempati.
"... sebagai rasa syukur saya kepada Allah dan terima kasih saya kepada Pimpinan tempat saya bekerja, insya Allah rumah ini akan saya rawat dan (saya berupaya) tidak akan saya jual Mas..., akan saya tempati sampai saya pensiun nanti ...".  Di rumah inilah Pak Wongso mengalami pasang surutnya hidup, sejak tidak punya apa-apa, sampai semuanya lengkap (walaupun masih dalam bilangan sederhana).

    Allah telah menganugerahi berbagai kesuksesan dan kebahagiaan hidup kepada Pak Wongso.  Mulai dari pendidikan, perumahan, kendaraan, dan kebahagiaan keluarga dengan 2 anak gadis yang cantik dan manis.   Terakhir, datangnya Si 'buah hati' yang tak diduga dan tak disangka di hari-hari senjanya (maklum usia Pak Wongso sudah memasuki kepala lima), rasanya lengkaplah sudah kebahagiaan Pak Wongso, yang diawal kehidupannya penuh dengan onak dan duri kesedihan.
     Sering kali bila malam Pak Wongso terjaga dari tidurnya, tidak jarang dia meneteskan air mata.. 'tangis bahagia' rupanya.  Dia begitu mensyukuri nikmat yang dikaruniakan kepadanya dari Sang Maha Kaya,  yang dahulu pernah 'dihujatnya' (kalau tidak keburu sadar, durhaka lho sampeyan Pak!).
     
     Tidak terasa, samar-samar suara pengajian dari Masjid komplek rumah sudah terdengar, pertanda sebentar lagi waktu sholat Shubuh segera tiba.
Diakhir obrolannya, Pak Wongso sempat menitipkan pesan ketelinga saya, "... banyak-banyaklah bersyukur Mas dengan apa yang kita terima.  Baik 'susah' maupun 'senang'..." katanya, "karena antara susah dan senang, hakikatnya tidak ada perbedaannya bagi orang-orang yang beriman...".  Begitu Pak Wongso menutup obrolannya dengan nasihat yang aku sendiri belum memahami maksudnya.
Lha iyalah..., koq susah dan senang dia bilang sama...?!  Ah, Pak Wongso.. , aneh.


Senin, 01 Maret 2010

Masinisku yang tidak 'manis' nasibmu...    

   Hampir setiap hari aku ke kantor selalu kesiangan. Untung bossku termasuk orang yang baik.  Beliau tidak mempersoalkan tentang keterlambatanku masuk kantor. Mungkin beliau berprinsip 'yang penting pekerjaan beres'.  Daripada ngga masuk, ayo?!  Barangkali begitu prinsip beliau, ini barangkali lho...?!
     Seperti pada hari ini, untuk menghindari kemacetan, aku ke kantor menggunakan jasa kereta api.  Selain murah, juga relatif aman. Baik aman dari kejahatan orang-orang yang 'panjang tangan' maupun aman dari kecelakaan. Satu lagi, lebih cepat sampai tujuan dibanding kita menggunakan jasa angkutan umum lainnya atau 'omprengan'.  Kereta api juga anti macet (tentu saja kalau aliran listriknya tidak padam atau lokonya 'sehat').  Selain itu dapat mengangkut ratusan penumpang sekaligus.  Sungguh, alat angkutan yang sangat bermanfaat, khususnya untuk orang-orang 'kecil' seperti aku ini.  Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk pencetus/ pembuat kereta api ini.
     Memang ada kekurangannya juga, terkadang kereta terlambat jam berangkat atau datangnya.  Tapi buat aku ini sudah menjadi hal yang biasa. Pada awalnya sebel juga sih... terlambat melulu.!! (biasanya kita hanya pandai menilai kekurangan orang lain, tapi mengabaikan kekurangan yang ada di diri kita sendiri, sehingga kita hanya pandai menggerutu, mencaci dan sebagainya, tanpa mau melihat kelebihan orang lain.  Kita baru bisa menjadi 'penonton', belum bisa menjadi 'pemain'.. begitulah kira-kira). 
      Kembali ke masalah kereta, di awal Maret ini sepertinya pihak manajemen perkeretaapian hendak meningkatkan mutu pelayanannya kepada masyarakat, terbukti adanya perubahan jadual pemberangkatan KA untuk wilayah Jabotabek, alhamdulillah... rupanya ada penambahan jam pemberangkatan dari beberapa stasiun, salah satunya stasiun Bekasi.
     Aku biasa naik kereta yang berangkat pukul 10.28 WIB. Ternyata di awal bulan Maret ini ada jam pemberangkatan yang pukul 10.43 Wib.  Dengan adanya penambahan jam pemberangkatan ini, setidaknya dapat mengurangi rasa buru-buru yang selama ini aku rasakan bila jam sudah menunjukkan pukul 10.25. 
     Sebelumnya, kalau aku tidak kebagian kereta yang pukul 10.28, aku naik yang pemberangkatan pukul 11.00 dengan kereta Express, tentu saja harga tiketnya sedikit lebih mahal (Rp 9.000,-), tapi ada enaknya juga, karena aku tidak turun di Senen, tapi turun di Gambir.  Otomatis mengurangi jarak ke kantor dan pengeluaran kocekku.
     Biasanya kalau aku turun di Senen, kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor dengan 'ojek'. Aku harus mengeluarkan biaya sebesar 10 ribuan. Tapi kalau dari Gambir dengan alat angkutan yang sama, maksudku ojek tadi, aku cuma mengeluarkan biaya separuhnya.  Lumayan 'kan ...?
     Tidak terasa kereta sudah memasuki stasiun Gambir, berarti aku harus segera turun agar dapat ke kantor dengan lebih cepat.  Setelah turun dari kereta, aku baru sadar, bahwa sampainya aku ke Gambir selain cepatnya 'Si Besi Merangkak' tadi, ada pihak-pihak lain yang selama ini terabaikan jasanya.  Yang pertama tentu saja sudah kusebutkan di awal tulisan, yaitu Si Pencetus/Pembuat kereta, dan yang tidak bisa dilupakan yaitu 'supir'nya kereta api tersebut...! (siapa ya?).  Ya betul, .. Pak Masinis, sobat !  Dialah manusia yang selama ini berjasa kepada ratusan penumpangnya. Walaupun dengan gaji yang pas-pasan (karena dia termasuk pegawai negeri, dalam jajaran Dephub), toh dia tetap semangat kerja untuk kepentingan orang lain..., bukan main ...!
     Inilah sebenarnya orang yang mestinya mendapat apresiasi yang tinggi dari kita semua, khususnya dari Dephub RI.  Karena dia termasuk orang yang banyak memberikan manfaat kepada masyarakat.  Bagaimana dengan Anda?   Hati kecilkupun bertanya : "...Hai Bud, apa saja yang telah kau berikan kepada orang lain di sekitarmu???". Aku malu 'tuk menjawabnya.  Karena sampai hari ini aku baru bisa 'minta' belum bisa memberi dalam arti yang sesungguhnya...