Kamis, 25 Februari 2010

Alam Ghaib

ALAM GHAIB

     Bisakah kita melihat 'makhluk' dimensi lain?  Bagaimana rupa mereka itu?  Apakah mereka juga memakai kendaraan seperti kita?  Apakah mereka juga bersosialisasi?  Apakah mereka juga bisa terluka?

     Saya pernah membaca sebuah buku yang cukup menggelitik keingintahuan saya.  Buku tersebut karangan seorang Ustad bernama M.Taufik Djafri, dia termasuk idola saya.  Karena isi ceritanya menurut saya cukup menarik, maka saya ingin berbagi dengan Anda semua.  Ceritanya begini ...

     Ini adalah sebuah cerita yang sangat unik, bukan penggalan cerita di televisi ataupun film-film horor yang sekarang sedang marak diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Seperti 'Hantu Puncak Datang Bulan' , 'Diperkosa Setan' atau 'Suster Ngesot', dan masih bejibun judul film-film horor yang kalau kita tonton bukannya merinding ketakutan, tapi malah bikin jantung laki-laki bujangan mau copot, karena banyak adegan pamer aurat perempuan...
     Waktu itu sore hari beberapa tahun yang lalu, hujan sedang rintik-rintik turun ke bumi. Matahari sudah memasuki peraduannya di ufuk barat, menunjukkan waktu 'maghrib' hampir tiba. Binatang ternakpun sudah masuk ke kandangnya masing-masing.
     Para santri dan jamaah masjid keluar dari rumahnya utk menuju masjid atau musholla guna melakukan sholat berjamaah.  Pada saat itu saya sedang berada di perjalanan pulang dari aktivitas bekerja.  Kendaraan yang saya kemudikan melintasi sebuah daerah yang tidak asing bagi saya. Saya sering kali melalui jalan ini.
     Mobil bergerak perlahan, karena cuaca lagi remang-remang disertai hujan rintik.  Di depan sebuah bangunan yang agak tua, tiba-tiba kipas pembersih kaca mobil sebelah kiri terlepas dan jatuh.  Maka dengan perlahan saya menghentikan mobilnya. Kira-kira berjarak 50 meter ke depan saya pun mencari kipas yang terjatuh tadi.  Anehnya dalam waktu yang cukup lama, saya tidak juga menemukan kipasnya.  Bahkan sampai berjalan dengan jongkok dalam jarak yang cukup jauh dari kejadian itu, tidak juga benda itu ditemukan.
     Hari sudah mulai gelap.  Suara adzan maghrib dari mushola terdekat lamat-lamat sudah mulai menghilang.  Mungkin orang-orang di masjid sudah mulai melakukan sholat berjamaah.  Karena sampai jauh tidak juga di temukan benda yang dicari itu, maka dengan agak frustasi saya kembali ke tempat mobil.
     Ketika berjalan ke arah mobil, dari arah belakang melaju sebuah mobil berwarna putih.  Kira-kira hanya berjarak satu meter persis di samping saya, mobil putih itu menabrak dua orang yang lagi menyeberang jalan.  Maka terjadilah peristiwa tabrakan itu dengan diikuti suara yang sangat keras.
Tentu saja saya terkejut. Kejadiannya sangat tiba-tiba.  Saya  menyaksikan semua kejadian itu dengan begitu jelas. Mobil berwarna putih itu berhenti sekitar satu meter dari tempat saya berdiri.
     Yang tragis adalah di bawah ban mobl depan masih tergeletak seorang wanita tua.  Ia mengenakan kain panjang bermotif batik.  Darah berceceran di sekitar tubuhnya.  Sementera seorang lelaki tua juga tergeletak di depan mobil dengan jarak sekitar dua meter dari mobil itu.  Di dekat laki-laki itu terdapat keranjang yang berisi beberapa kain yang juga tercecer berserakan di tengah jalan.  Sungguh pemandangan yang sangat menggiriskan hati dicuaca yang agak remang-remang.
     Begitu paniknya saya  menyaksikan kejadian itu.  Tak ayal lagi saya berteriak minta bantuan orang-orang di sekitar.  Saya bergegas menghentikan setiap mobil yang lewat agar menolongnya.  Saya masih ingat bahwa mobil yang dihentikan waktu itu, yang pertama kali lewat adalah mobil  kijang warna biru metalik.  Kemudian mobil Taft warna hijau tua.  Kemudia masih ada dua mobil lagi di belakangnya yang ikut berhenti.
     Ketika saya menghentikan mobil Taft warna hijau tua, saya sempat memegang tangan seorang laki-laki yang duduk di kursi depan sebelah kiri, dan saya tarik supaya keluar dari mobilnya untuk menolong kecelakaan itu.  Bahkan saya sempat mencegat mobil angkutan umum di deretan paling belakang.  Saya masuk ke dalam mobil angkutan umum itu.  Di dalamnya banyak sekali penumpang duduk berjubel.  Saya minta tolong pada mereka, tetapi anehnya para penumpang itu tidak memperdulikann saya mereka hanya berdiam diri tanpa komentar apa-apa, seakan tidak melihat kehadiran saya...
     Sayapun turun dari angkot itu dan bergegas menuju ke tempat kecelakaan yang jaraknya hanya beberapa meter.  Saya berjalan agak cepat ke arah kejadian dengan menerobos keramaian orang-orang yang berkerumun. Sambil sesekali menoleh ke arah belakang, kalau-kalau ada bantuan lain yang datang menolong.
     Ketika sampai di titik kejadian, setelah melewati kerumunan banyak orang, saya menjadi terbengong dan terpaku.  Ternyata orang yang tertabrak itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.  Tidak ada darah. Tidak ada keranjang dan tidak ada pakaian yang tercecer.
     Saya menoleh ke arah mobil warna putih itu.  Ternyata mobil itu juga tidak ada.  Mobil kijang biru, juga tidak ada.  Mobil Taft juga tidak ada.  Termasuk angkutan umum yang disesaki penumpang...
Saya pun menoleh ke tempat orang-orang berkerumun.  Ah, mereka juga tidak ada semuanya...
     Keadaan di jalan itu sunyi senyap.  Tak ada seorangpun berdiri disitu.  Tak ada sebuahpun mobil yang lewat.  Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan baru terjadi sebuah peristiwa kecelakaan.  Saya terkesiap, tidak mampu berkata-kata.  Apa sebenarnya yang sedang terjadi ?
     Ditengah-tengah kondisi hati yang sedang berkecamuk, saya melihat di dekat kejadian itu ada sebuah warung kecil.  Di dalamnya ada seorang bapak tua yang berjualan rokok.  Dia menggunakan ikat kepala, layaknya orang yang berasal dari daerah jawa tengah.  Orang tua itu sedang asyik menghisap rokoknya sambil melayangkan pandangannya lurus-lurus ke depan, seperti orang yang lagi melamun.
     Saya dekati bapak tua itu, dan sayapun bertanya kepadanya : "...Pak, kemana orang-orang itu semua, bapak melihat kejadian tadi?" Orang tua itu tidak sedikitpun menoleh kearah saya.  Tapi ia menjawab : "Kejadian apa?  Saya sejak tadi disini, tidak ada kejadian apa-apa..!"
     Bulu kuduk saya berdiri, mendengar jawaban itu.  Saya usap kedua mata saya, saya cubit lengan saya.  Saya sedang tidak bermimpi.  Tapi saya baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang luar biasa.
Akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan, saya cepat-cepat pulang menuju rumah.  Saya ceritakan kejadian itu kepada isteri.  Ia hanya terbengong-bengong mendengarkannya...
     Saya masih penasaran.  Keesokan harinya pagi-pagi sekali saya menuju ke tempat kejadian itu untuk mencari kembali kipas kaca mobil yang terlepas tadi malam.  Sekalian sambil ingin menyaksikan ulang bekas peristiwa tadi malam.  Sesampainya di tempat kejadian itu, saya bertambah merinding..!
Ternyata selain kipas mobil tidak saya temukan, satu lagi yang membuat saya termangu adalah, di tempat itu ternyata sunyi sekali.  Tidak ada seorangpun yang berjualan, tidak ada bekas-bekas kecelakaan, bahkan penjual rokok beserta warungnya pun tidak ada..!
     Saya tetap penasaran.  Saking tidak kuatnya menahan gejolak hati, keesokan harinya saya bercerita kepada beberapa orang teman dekat.  Bahkan sempat saya ceritkan di kelas ketika saya mengajar.
Satu hal lagi yang membuat bulu kuduk menjadi berdiri..!  Ketika saya bercerita tentang hal itu, ada seseorang yang memberikan kesaksiannya.  Ia pernah diberi tahu oleh orang tuanya, bahwa di tempat kejadian yang saya ceritakan itu memang pernah terjadi peristiwa yang persis seperti apa yang saya lihat itu.  Tetapi katanya, peristiwa itu sudah terjadi sekitar belasan tahun yang lalu... Subhanallah !  Mendengar kesaksian itu semua orang saling pandang...!  Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu.  Antara percaya dan tidak percaya.  Antara heran dan penasaran.
     Pembaca, dari kejadian itu apa yang terpikir dibenak Anda?  Ada satu kesimpulan menarik darinya, yaitu ternyata ada dunia lain yang sedang berlangsung disamping dunia kita ini.  Allah SWT  telah sedikit membuka tabir tentang rahasia alam ciptaanNya yang luar biasa itu kepada kita semua.  Kita semakin mengakui bahwa betapa kecilnya diri kita ini.  Bahwa dibalik dunia kita, ternyata memang ada suatu kehidupan lain.  Bahwa kehidupan itu, satu dengan lainnya, berada pada tingkatan atau dimensi yang berbeda.  Saat saya menyaksikan kejadian itu, rupanya Allah sedang menyingkap tabir itu sedikit, sehingga saya bisa 'menonton' dunia yang tidak sama secara bersamaan di waktu maghrib itu ...
Terjadi adanya relativitas waktu antara kejadian yang saat itu saya saksikan dengan kejadian sesungguhnya, yang katanya peristiwa itu terjadi sudah belasan tahun yang lalu. (...wallahu a'lam)
     Waktu maghrib adalah waktu khusus yang mungkin harus diperhatikan oleh setiap manusia.  Saat itu matahari telah turun, dimana akan terjadi pergantian waktu dari siang menuju malam.  Waktu semacam itu oleh agama kita disebut waktu Maghrib, yang perlu sekali pada saat itu manusia diwajibkan menyembah dan mengagungkan Tuhannya.  Allahu Akbar...!
     Saya jadi teringat petuah orang tua kepada anak-anaknya zaman dulu.  Jika waktu senja telah datang (sende kala), jika waktu sholat maghrib telah tiba, jangan lagi ada anak yang diluar rumah... masuklah ke dalam rumah, cepat ambil air wudhu untuk sholat maghrib dalam rangka mengabdi dan menyembah kepada Tuhannya langit dan bumi ini.

     Semoga dari peristiwa aneh tersebut, kita dapat mengambil nilai positifnya.  Semoga kita bertambah yakin akan datangnya hari perhitungan, yang akan terjadi pada dunia lain setelah terjadinya hari berbangkit kelak.
Semoga semua itu akan menjadikan kita semakin yakin akan Kekuasaan Allah yang tiada terhingga. Dan menjadikan kita semua lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar